Jamestown

June 13th, 2007 by suryana74

Silver Spring, Maryland

Thursday, June 13, 2007

Kira-kira sebulan lalu, menjelang selesai program Hubert Humphrey Fellowship, temen gue yang baik walau cerewet, Bu Lily, came up with several great ideas, termasuk pergi lewat jalan darat ke berbagai tempat di Pantai Timur Amerika. Karena beliau belum juga yakin tempat mana yang hendak dituju, maka gue usul agar kita pergi ke Jamestown, di daerah Virginia, sekitar 2 atau 3 jam dari tempat kita tinggal di Maryland. Gue yakinin bahwa tempat ini asyik, soalnya selain mengunjungi salah satu tempat paling bersejarah di Amerika, kita juga bisa nonton perayaan 400 tahun mendaratnya orang-orang Inggris pertama di Amerika. Mereka inilah cikal bakal bangsa kulit putih yang menghuni negara Amerika Serikat saat ini.

Gue yang menyewa mobil, dan akhirnya kita dapet mobil Jeep Cherokee dari Thrifty Car Rental. Mobil ini lumayan asyik, masih baru dan terlihat kokoh, khas mobil Amerika. Celakanya, gue kayaknya belum pernah nyetir jeep. Biasanya gue nyetir sedan atau kijang. Makanya, begitu pegang kemudi, gue langsung blingsatan. Gue puter-puter kuncinya, kok mesin gak nyala-nyala yak? Tetep aja si jeep hitam ini diem membisu. Gue kutak-kutik, dan ketika pencet salah satu tombol, yang bergerak malah si weeper penyapu air hujan! Waah, gue tengsin habis, soalnya di sebelah gue duduk cewek Batak, si Deta. Kita berdua emang yang ambil mobil dan rencananya, nanti kita akan jemput Bu Lily, suami beliau yang bernama Rizal dan teman lain yang bernama Ovie. "Waah, gawat neh. Bah, apa pula pikir si Batak ini nanti?" begitu kata gue dalam hati.

Meski panik, gue pura-pura tetep tenang dan cool. Pokoknya gerak-gerik tetep memperlihatkan ketenangan dan profesionalisme. Bah! Gue pura-pura mempelajari seluk-beluk mobil, dan sontoloyo, ternyata mobil ini sudah nyala! Cuman gak kedengaran bunyinya karena saking alusnya mesin mobil!

Satu masalah selesai, sekarang muncul masalah lain. Parkir mobil yang terletak di belakang kantor Thrifty ini sempit, jadi mobil jeep ini susah bergerak. Mana mobil ini besar pula badannya. Gue mundurin pelan-pelan, wah, gak cukup neh. Gue majuin lagi, mundurin dan akhirnya bisa lepas juga dari parkir sempit ini. Begitu gue hendak tancap gas ke jalan raya, tiba-tiba si Deta nyeletuk: "Mas, kok mobil ini gak punya kaca belakang yah?"

Tentu saja gue kagak percaya: "Ah, masak sih?" Gue perhatikan emang daerah belakang mobil bolong. Gue pikir ini karena kaca belakang sangat jernih, sehingga pemandangan di belakang mobil terlihat jelas banget, seperti aslinya.

Deta lantas nyeletuk lagi: "Oh, gue tahu sekarang, pintu belakang belum ditutup!" Si doi lantas bergegas buka pintu dan pergi ke bagian belakang mobil untuk tutup pintu belakang mobil. Rupanya, pintu belakang terbuka ke atas. Jadi, tadi itu kita puter-puter parkiran dengan pintu mobil bagian belakang terbuka ke atas! Untung tidak menghantam tembok atau mobil lain.

Setelah itu kita meluncur menjemput tiga teman yang lain diatas, yang tengah setia menunggu di McDonald Restaurant di Silver Spring. Si Deta tetap duduk di depan, dan gue harus akui, anak 23 tahun ini cukup tajam dalam membaca peta. Tak sia-sialah dikau diterima di Georgetown University, nak!

Sepanjang perjalanan cukup lancar, dan kita berhenti sekali dua kali untuk beli makanan atau isi bensin. Uda Rizal seperti biasa sibuk ambil gambar. "Aku pikir, aku ini maniak foto. Tapi ternyata ada orang lain yang lebih maniak dari aku, Mas," cetus si Deta ke gue dengan logat Bataknya.

Perjalanan cukup lancar, walau sempat macet ketika hendak sampai di Jamestown. Rupanya ada macet juga di Amerika. Macet ini karena ada dua jalan yang menyempit. Untung tidak lama, sehingga kita terus melaju ke Jamestown tanpa hambatan.

Kita langsung menuju ke suatu benteng kecil dimana orang-orang Inggris pertama mendarat di Jamestown. Kita tidak boleh parkir di sekitar areal benteng, dan harus parkir agak jauh di tourism center, dan dari sana, kita naik bis ke tempat bersejarah itu.

Kita lihat, di daerah sekitar tempat bersejarah itu, sudah banyak tenda dan tempat pertunjukan digelar. Cukup ramai, mengingat hari ini, 11 Mei 2007, merupakan hari pertama diselenggarakannya festival memperingati 400 tahun datangnya orang-orang Inggris di Amerika. First settlement of Englishmen in the U.S.

Kita berusaha masuk ke benteng, tapi sialnya tempat itu cuman buka sampai jam 5 sore. Kita nyampe udah jam 6. "Tolong Bu, kita jauh-jauh datang dari Maryland," kata gue ke si ibu-ibu yang jaga benteng. Tetep aja si doi kekeuh, sambil mohon maaf benteng udah tutup. Gue jadi merasa bersalah ke teman-teman ini, sudah jauh-jauh, ternyata benteng tutup. Untunglah, akhirnya mereka terlihat enjoy ngeliatin festival. Mereka foto bareng dengan orang bule berpakaian mirip prajurit Inggris masa lalu, nonton konser dan makan-makanan khas Amerika.

Malamnya kita singgah ke Richmond, salah satu kota besar di Virginia, dan nyampe disana sudah sekitar jam 11 malem. Apa boleh buat, karena udah malem, lagi-lagi kita makan di McDonald, tempat makan favorit si Uda Rizal.

Perjalanan pulang lancar-lancar aja, dan mobil ini lumayan asyik juga, mantap dikendarai, meski borosnya minta ampun. "Asyik, kayak naik pesawat," begitu celoteh si Deta.

Kita sampai di Washington jam 12.30 dan  mendrop si Deta di apartmennya yang terletak di Crystal City, Washington DC. Nah, tanpa si Deta, kita berempat ini seolah kambing kehilangan sang penggembala.

Begitu keluar daerah apartmen si Deta, gue lihat ada 15 dan 18 Streets, tapi mana yah 16 Street? Kalo gue bisa dapet 16 Street, jalan ini langsung lurus ke Silver Spring. Tapi, muter-muter bagaimanapun, tidak ketemu juga 16 Street. Kita ambil jalan lain, tetep hasilnya sama. Bukannya mendekat ke Silver Spring, tapi malah menjauh. Karena sudah capek, maka suasana jadi tegang. Setelah muter-muter tanpa arah, tak satupun diantara kita yang berani ambil inisiatif hendak ke mana kita melangkah. Takut kalo jadi kambing hitam.

Akhirnya kita berhenti ke CVS Pharmacy, dan tanya si penjaga toko. Setelah dia jelaskan panjang lebar, kita berkesimpulan, orang ini baik hati, tapi gak banyak membantu. Bu Lily akhirnya ambil inisiatif, dan mengusulkan kita pergi ke downtown Washington, dan setelah itu akan lebih jelas kemana kita bergerak.

Gue ambil keputusan, kita pergi ke downtown Washington dan cari 16 Street. Dan ternyata, keputusan ini tepat. Begitu kita ketemu 16 Street, tinggal lurus terus, sampai dah ke Forest Glen dan Silver Spring, dimana kami tinggal. Setelah lihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Rupanya sekitar tiga jam kita puter-puter Washington DC. Ini mah sama dengan waktu tempuh Washington - Jamestown!

 

In the Land of Women

June 3rd, 2007 by suryana74

Silver Spring, Maryland

Sunday, June 3, 2007

Dulu ketika gue pacaran, bekas cewek gue berinisial JHU pernah "mengutuk" gue, "Huh, hidupmu itu selalu dikelilingi cewek rupanya." Dia cuman sekedar jengkel dan cemburu, soalnya teman gue banyak yang cewek. Tapi, rupanya kutukan itu lumayan manjur, sehingga entah bagaimana ceritanya, sampai sekarang hidup gue ini masih selalu dikelilingi cewek.

Seperti gue pernah cerita, gue selama 10 bulan ini di Amerika hidup bareng se-apartmen dengan dua perempuan dari Pakistan dan Afghanistan. Nah, dampaknya, karena gue hidup dengan mereka, gue akhirnya terpaksa menjadi tuan rumah dan sekaligus berteman dengan teman-teman mereka yang tentu saja kebanyakan perempuan. Anita dari Pakistan punya satu teman tetap yang sering datang ke apartmen kita yang namanya Preety, cewek imigran asal India.

Sementara Hamida dari Afghanistan, temen ceweknya banyak banget dan celakanya si Hamida ini senang mengundang teman-temannya nginep di apartmen kita! Biasanya cuman satu atau dua teman peremuan Hamida nginep di tempat kita, tapi pernah suatu ketika, empat temannya sekaligus nginep di apartmen kita selama seminggu, sehingga di satu apartmen kecil ini ditinggali oleh 6 perempuan termasuk Hamida dan Anita, dan satu laki-laki cakep dari Indonesia, yah gue ini!  Sebelum gue bertanya, si Hamida duluan menjelaskan,"Saya gak bisa menolak ketika mereka pingin nginep di tempat kita. Kasihan mereka, soalnya mereka gak tahu di mana akan tinggal." Cewek-cewek ini (tiga belajar di Richmond, Virginia dan satunya di North Carolina) memang tengah mengikuti workshop di The University of Maryland, tempat gue, Hamida dan Anita belajar.

Gue tentu saja gak bisa berbuat apa-apa. Tapi ternyata, cewek-cewek itu menyenangkan dan gue suka berteman dengan mereka. Kita sering jalan bareng dan kebetulan gue juga ikut workshop tentang Negosiasi itu, jadi banyak waktu gue sering dilewatkan dengan mereka.

Meski demikian, cuman ada satu masalah sepele: ketika mereka tinggal dengan kita, gue jadi gak bebas kalo mau beol!  Kebetulan kamar mandi gue dan Anita terletak di dekat ruang tamu, dan cewek-cewek itu dan Hamida sering ngumpul di ruang tamu untuk ngobrol atau makan, jadi kalo gue mau ke kamar mandi, pasti mereka lihat gue. Coba bayangkan elu beol, sementara cewek-cewek pada ngeliatin pintu kamar mandi elu dari jarak sekitar dua atau tiga meter. Mau ngeden aja gue kagak berani, malu kalo kedengaran gue kentut! Susah dah! Kalo mereka memperpanjang tinggal sampai sebulan, bisa-bisa gue kena penyakit ambeien :)

Tidak hanya tinggal dengan dua cewek, tapi peserta program Hubert Humphrey di The University of Maryland juga kebanyakan perempuan. Ada 11 Humphrey Fellows yang ditempatkan di The University of Maryland, dan tujuh dari 11 orang itu ialah perempuan, termasuk Anita dan Hamida. Jadi, tentu saja gue akhirnya banyak bergaul dengan mereka.

Selain dengan teman-teman Humphrey Fellow, gue juga bergaul dengan banyak teman-teman Amerika dan pelajar Indonesia yang tengah belajar di Amerika, dan banyak di kalangan mereka juga perempuan. Kejadian yang terakhir ialah Minggu lalu, ketika gue dan satu teman dari Indonesia, seorang cewek Batak yang tengah kuliah di Georgetown University, janjian hendak hitung-hitungan duit sepulangnya kita berpesiar ke Niagara. Akhirnya kita janjian ketemu di Adams Morgan, dan gue pikir dia akan pergi dengan teman-teman laki-laki dan perempuan, gak tahunya, begitu turun di stasiun kereta Adams Morgan, si doi rupanya muncul dengan dua teman perempuannya, satu sekolah di The University of Arkansas, dan yang satu lagi sekolah di Harvard University! Nah, lagi-lagi gue harus ngurusin tiga cewek sendirian! Kita lantas pergi ke Adams Morgan dan nongkrong di suatu cafe di sana. Cukup menyenangkan karena cewek-cewek ini asyik-asyik saja!

Trip to Deep South (Louisiana)

April 28th, 2007 by suryana74

Lafayette regional airport, Louisiana, U.S.

Saturday, April 29, 2007

Mungkin teman-teman sudah biasa komplain kalau transportasi publik di Jakarta itu awut-awutan dan tidak nyaman. Metromini suka kebut-kebutan dan nurunin penumpang seenaknya, kereta api bau dan padat penumpang, supir taksi sering muter-muterin penumpang sehingga penumpang harus bayar lebih mahal. Pokoknya, gak enaklah bepegian di Jakarta.

Nah, baru di Lafayette inilah gue merasa bahwa transportasi publik di Jakarta itu lebih komplet dan mudah didapat. Tidak seperti di Jakarta, kota Lafayette ini tidak friendly untuk pejalan kaki dan orang yang kagak punya mobil. Gue yang merupakan pendatang baru susah untuk bepergian kemana-mana. Bis muncul paling cepet mungkin satu jam sekali, dan halte bis jarang terlihat. Bahkan mau menyeberang jalan saja susah, karena banyak perempatan jalan tidak dilengkapi dengan walk sign (tanda untuk menyeberang jalan). Taxi jarang terlihat di jalan. Satu-satunya jalan untuk bepergian, telpon operator taxi dan menunggu supaya kita dijemput taxi. Memang murah, cuman 5 dollar muter kemana aja di kota, tapi capek nunggunya. Gue perhatikan, cuman sekali supir taxi muncul dalam hitungan menit. Sering kali mereka baru nongol setelah setengah atau satu jam. Ada dua alasan kenapa mereka nongolnya lama. Yang pertama, mungkin jarak supir taksi yang dapat giliran memang agak jauh, yang kedua, ternyata memang sudah biasa bahwa supir taksi melayani dua atau tiga penumpang sekaligus. Seperti gue misalnya, ketika hendak pergi ke Cajun Dome, gue agak surprise karena supir taksi belok dulu ke tempat lain dan menjemput penumpang lain, perempuan Hispanic, lumayan cakep dan ternyata sering kali naik taksi ini ke kantor :) Setelah mendrop perempuan Hispanic ini ke kantor, si supir taksi pergi suatu tempat dan kali ini yang naik nenek-nenek bule yang sudah tua dan bahkan untuk dudukpun susah. Si supir taksi kemudian mendrop gue dan setelah meluncur menuju tempat yang dituju si nenek.

Karena naik taksi cukup menyebalkan, maka gue ambil keputusan bahwa gue harus menyewa mobil supaya gampang bepergian kemana-mana. Untung gue punya SIM (hidup Victor, gara-gara Nyong Ambon ini, gue bisa punya SIM Amerika). Gue lantas meluncur pagi-pagi ke Enterprise, perusahaan penyewaan mobil yang terletak sekitar sekilo dari tempat gue menginap, Travel Lodge Hostel di Pinhook Street. "Can I get a car?" tanya gue ke resepsionis. "I am sorry, Sir. No car is available today, except a van. Would you like that one?" kata si resepsionis, orang item. "No, thanks," kata gue. Memang sekarang lagi ada International Music & Art Festival di Lafayette, jadi banyak orang yang pinjam mobil. Bego juga gue. Akhirnya gue jalan menyusuri kantor-kantor yang ada di daerah sekitar tempat gue tinggal, tapi tidak juga ketemu penyewaan mobil. Akhirnya gue nyerah, dan capek juga jalan di tengah hawa panas gini. Gue lantas telpon operator taxi, dan lagi-lagi sial, soalnya semua taksi sibuk melayani penumpang. Akhirnya gue mampir minum kopi di sebuah kafe dan setelah minum, lantas gue telpon lagi si operator taxi dan akhirnya dapat juga taksi, yang kemudian membawa gue ke bandara. Di bandara banyak outlet penyewaan mobil, dari Alamo, Hertz, Enterprise dan Avis. Akhirnya gue nyewa mobil dari Alamo. Gue dapat surat kontrak selembar dan dari situ tertera bahwa gue menyewa selama sehari dan perkiraan habis biaya sekitar $120. Si ibu karyawan Alamo ngasih gue kunci, dan gue ngeloyor ke luar airport, ke tempat dimana mobil diparkir. Nah, gue agak surprise, soalnya ternyata mobil yang gue rental ini Chevrolet Cobalt. Mobil ini agak fancy, sangat gres karena dibuat tahun 2007 dan memang untuk anak muda. Mobil ini berplat New Jersey. Rupanya si ibu-ibu ini berpikiran gue anak muda dan keren, jadi layak dipinjami mobil yang keren pula (ha..ha..ha..yang baca ini pasti sebal, dan lantas mengutuk gue narsis :).

Nah, setelah ada mobil, hidup di Lafayette ini jadi lebih nyaman. Gue lantas tancap gas ke Barton Rouge, ibukota negara bagian Louisiana, yang juga merupakan kota tetangga Lafayette. Gue sudah bayar mahal, jadi harus dimaksimalkan menggunakan mobil ini. Di sepanjang jalan, memang negara bagian Louisiana ini berbeda dengan negara bagian lain di Amerika. Tanahnya subur dan banyak terlihat rumput dan pepohonan hijau di tepi jalan. Bentuk rumah agak berbeda dengan tempat lain di Amerika. Rumah banyak yang berbentuk kolonial. Banyak terlihat perkebunan dan pertanian. Memang daerah selatan ini terkenal dengan pertaniannya, dan disinilah negara bagian yang mendukung perbudakan. Di jaman dulu, orang perlu budak untuk menanam jagung, gandum dan lain-lain, dan karena itu mereka mengimport budak dari Afrika. Fenomena sejarah inilah yang menjelaskan mengapa banyak dijumpai orang kulit hitam di negara bagian Louisiana, terutama di Baton Rogue. Lafayette sendiri lebih banyak dijumpai orang kulit putih, yang dulunya berasal dari Prancis, dan mereka lebih dikenal dengan nama Acadian atau Cajun people.

Gue tidak mampir kemana-mana di Baton Rogue. Rencananya sih pingin mampir ke River Center, tapi karena parkir pada penuh semua gue batalin untuk jalan berkeliling, lagian waktunya terbatas. Kalo nekat parkir, dan salah parkir, bisa-bisa mobil diderek, dan jika ini terjadi, ini bisa gawat.

Akhirnya gue balik ke Lafayette jam 6 sore, dan sampai sekitar jam 7. Kota Lafayette sudah penuh sesak dengan orang yang hendak menonton international festival, dan gue beruntung karena akhirnya dapat tempat parkir yang aman dan gratis pula! Gue lantas jalan menuju ke pusat kota, dan disana pertunjukan sudah pada dimulai. Grup musik dari berbagai penjuru Amerika dan dunia tampil unjuk kebolehan di berbagai panggung yang digelar di berbagai sudut kota. Penonton tinggal milih mau nonton dimana. Cukup asyik untuk ditonton walau musiknya banyak yang gue gak paham. Selain asyik nonton musik, asyik juga nongkrong di cafe dan makan roti buatan lokal yang ternyata enak-enak. Sempat juga gue makan New York Cheesecake di Dwyer’s Cafe, dan lumayan lezat juga. Mungkin karena gue lapar. Malamnya nonton musik di suatu cafe yang gue lupa namanya. Ketemu dengan orang Amerika yang rada mabuk, dan tanya gue dari mana. "Are you from Japan?" kata si Amerika geblek ini. Memang sejak kasus penembakan di Virginia Tech, orang Amerika agak sensitif dengan orang yang bertampang asing. Sudah dua kali gue dikira orang Korea, padahal jauh banget bedanya.

Satu hal yang menonjol dari orang Lafayette dan Louisiana ialah mereka itu ramah banget dan sangat helpful. Logatnya asyik untuk ditelaah. Khas logat Southerner. Begitulah Louisiana :)

Bloomberg New York

April 5th, 2007 by suryana74

Udi wrote:
Re: [thejakartapost] a’an, elo jalan2 ke kantor
bloomberg new york ya? kok gak bilang2?
———————————————–

dear Udi,
Just got back from New Yorkarto.
Oh ya, aku bertemu dengan bekas bos-mu, Alexis, yang
menjadi tour guide selama kami, 11 Humphrey fellows,
berkunjung ke Bloomberg headquarters di New York,
Selasa lalu. Orangnya baik banget, we are really
impressed by his hospitality.
Soal Bloomberg, teman-teman Humphrey Fellows tidak
begitu familiar dengan Bloomberg. Mereka tahunya AFP,
Reuters dan AP. Anyway, gue lumayan bangga, karena
ternyata nama Jakarta, sbg salah satu emerging market,
menjadi salah satu nama ruangan di Bloomberg building.
Oleh karena itu, bisa sedikit rada pamerlah ke
teman-teman yang berasal dari negeri-negeri aneh
seperti Burkina Faso, Botswana, Bangladesh, Afghan,
Pakistan, Niger, Romania dll.
Teman-teman itu lebih terkesan lagi karena ternyata
nama institusi gue, The Jakarta Post, muncul di
terminal Bloomberg, sebagai pelanggan. Gue baru tau,
ternyata cuman ada dua koran di Indonesia yang
berlangganan Bloomberg, The Jakarta Post dan Bisnis
Indonesia.
Diskusi di Bloomberg biasa-biasa saja, lebih seru
diskusi di The New York Times dan ABC News. Meski
demikian, teman-teman terkesan dengan gedung Bloomberg
yang memang sangat modern dan berbeda banget dengan
kebanyakan gedung di US. Hampir semua temboknya kaca,
yang melambangkan prinsip transparansi. Ada satu
lantai dimana disediakan free drinks and snacks,
sehingga pengunjung dan karyawan bisa makan sepuasnya
tanpa meninggalkan kantor.
Yah, begitulah impresi tentang Bloomberg. Cukup
prosperous, apalagi bos-nya, Michael Bloomberg,
sekarang jadi Walikota New York.
Oh ya, sebagai background, kunjungan kita ke New York
difasilitasi The Philip Merrill College of Journalism,
The University of Maryland. Selama tiga hari di New
York
, kita berkunjung ke The New York Times, Committee
to Protect Journalist, Bloomberg, The United Nations,
ABC Television dan last but not least, nonton PHANTOM
OF THE OPERA di Broadway.
Bagi gue, tentu saja yang berkesan ialah kunjungan ke
The New York Times, koran yang paling berpengaruh di
Amerika Serikat. Kita bertemu dengan Andrew Rosenthal,
yang menjadi Kepala Desk Opinion Page, ini kalo di The
Jakarta Post, Bang Purba. Kocaknya, orangnya kok ya
sedikit mirip dengan bang Purba: kalo ngomong
ceplas-ceplos, perut agak sedikit buncit, tidak
terlalu tinggi, bangga banget dengan kelaurganya,
umurnya 51 tahun.
Kita berdiskusi tentang berbagai macam hal. Kalo gue
bertanya lebih tentang pragmatis issue seperti how he
runs  editorial page, what does "All The News Fit to
Print" mean?, Maka teman-teman dari Afrika, Pakistan
dan Afghanistan, seperti biasa mereka punya agenda
khusus: menuntut dan mempengaruhi media di Amerika
untuk lebih adil dalam memberitakan soal Afrika dan
dunia Islam. Menurut gue sih, ini namanya menggarami
laut, kagak ada gunanye. Mau ngomong apapun, orang
Barat akan tetap bias dalam memberitakan soal Afrika
dan dunia Islam. Menurut gue, akan lebih strategic
jika entitas non-Barat membikin media sendiri untuk
meng-counter Western bias. Munculnya ANN, dan
akhir-akhir ini Al Jazzeera, cukup melegakan karena
memberi orang alternatif pemberitaan tentang isu-isu
hangat dunia.
Sayang, tidak seperti kunjungan kita di The Washington
Post
, selama kunjungan ke New York Times, kita tidak
diberi kesempatan untuk berkeliling di kantor mereka,
cuman diskusi doank.
Selesai diskusi, gue misah dari rombongan dan
menyempatkan untuk bertemu dengan NYT’s Vice President
of Human Resources, Muriel Watkins. Ini cukup nekat
karena gue belum bikin appointment, tapi demi The
Jakarta Post, ya gue kerjakan juga. Sekretarisnya
nggak ada, jadi nggak ada yang bisa nahan gue untuk
ketemu dengan Muriel: tante sekitar 40 tahunan, cakep,
seksi, trendy, KHAS CEWEK MAPAN NEW YORK.
Si doi cukup sebal juga karena tiba-tiba gue dan temen
gue, Zahid senior reporter dari Bangladesh, muncul di
depan pintu dan ngomong pingin ketemu.
"How much time do you need?" kata si doi. "If it is
possible, half an hour, Maam," kata gue dengan muka
sopan dan memelas.
Gue jelasin panjang lebar siapa gue, dan maksud kami
bertemu Muriel. Juga, aku sebut bahwa kamu baru saja
bertemu dengan Andrew Rosenthal, ini penting untuk
disebut.
Lima menit gue ngomong, tetep saja si doi pasang muka
masam, mirip kayak patung Sphinx.
Akhirnya gue merubah taktik. Gue memutuskan perlu
sedikit gombal, supaya setidak-tidaknya si doi bisa
sedikit ngasih kita senyum. Makanya gue lantas
ngomong: "Anyway, Ms. Watkins, I am so fortunate that
I can meet you in person. I thought it would be very
difficult to meet a person in high position like you."

Nah, wajah si doi agak sedikit lumer. "How do you know
me?" kata si doi.
Gue mbatin, hah, a good sign. "I read in the internet
your presentation at Virginia University. That’s a
great presentation, very comprehensive yet concise,
that’s really second to none, I enjoy that very much.
Oh gosh, before I met you, I always thought that you
were a man."
Dia tergelak. She was burst into laughter. "Perhaps,
you saw my picture on the Net. The picture is blurr,
isn’t good," kata si doi.
Setelah itu, si doi ramah buangett. "What can I do for
you?" Gue jelasin bahwa gue pingin tahu
program-program dia di The New York Times, sehingga
gue bisa praktekkan di The Jakarta Post begitu gue
balik dari Amerika. Karena waktu mepet banget, dia
kasih gue dokumen tentang program training dan juga
dokumen kompensasi dan benefit untuk karyawan baru.
Gue belum baca, tapi moga-moga berguna buat The
Jakarta Post.
Oh ya, FYI, The New York Times building yang berlokasi
di Times Square sudah dijual, akan disulap menjadi
hotel, dan orang The New York Times akan pindah ke
gedung baru sekitar beberapa blok dari Times Square,
persis di depan Port Authority. Gedung baru mereka
tengah dibangun, dan sepertinya arsitekturnya akan
meniru Bloomberg building, lebih banyak dinding kaca,
yang melambangkan transparansi.
Yah begitulah, New York visit. Asyik juga nonton Phantom of The Opera dan nongkrong di Hard Rock Cafe, New York.

A’an

— "wahyudi@bloomberg.net" <wowyudi@gmail.com> wrote:

Orang desa (Vermont Part 4)

February 22nd, 2007 by suryana74

Summit Hills, Silver Spring, Maryland

Thursday, Feb. 22, 2007

Setelah tinggal di Barton, Vermont, selama dua minggu, persepsi gue tentang orang Amerika rada berubah. Ketika pertama datang ke Amerika, gue pikir orang Amerika ini cuek, dingin, arogan dan tidak ramah. Tapi, ternyata tidak semua orang Amerika seperti itu. Mungkin orang-orang yang arogan dan tidak ramah itu hanya di kota besar saja seperti Washington atau daerah pinggiran kota seperti Maryland.

Tidak seperti orang Amerika di kota besar, orang Amerika di daerah pedesaan seperti Barton sangat ramah, hangat dan bersahabat. Tidak ada perasaan curiga terhadap orang asing. Mereka mau tahu banyak tentang Indonesia, mereka sangat bersemangat mengenalkan budaya Amerika ke orang asing seperti gue. Gue dianggap sebagai tamu yang mesti dihormati dan dianggap sebagai sahabat, teman. Ini persis dengan yang gue temuin dari orang-orang Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan.

Kalo melihat fenomena diatas, sepertinya ada kesamaan karakteristik di seluruh dunia bahwa rata-rata orang di pedesaan itu lebih ramah dan bersahabat dibandingkan dengan orang kota. Karakter itu mungkin karena di pedesaan tingkat kompetisi hidup masih rendah sehingga orang lebih santai. Selain itu, juga karena hidup di pedesaan tidak stress seperti di kota yang dipenuhi oleh polusi, diwarnai oleh kemacetan dan tingginya angka kriminalitas.

Seperti yang gue lihat dari teman-teman Amerika gue di Barton. Mereka nyantai dan fleksible, meski demikian, mereka tetap kerja serius, etos kerja mereka tinggi.

Selain ramah, antar tetangga juga saling membantu. Seperti misalnya, tetangga Chris yang bernama Jacob, membantu membersihkan drive way Chris dengan mesin pembersih saljunya. Kadang-kadang Chris datang ke rumah si Jacob untuk membantu memperbaiki listrik atau peralatan rumah tangga yang lain. Suatu malam, gue, Chris, Jacob dab istri Jacob makan bareng di Parker Pie, satu-satunya toko dan restaurant di West Glover (semacam desa), di daerah tempat kami tinggal.

Kalo gue lagi ngider di kota atau di desa, semua orang menyapa dengan ramah. Semua orang di Barton rupanya sudah tahu kalo gue dari Indonesia dan tengah menjadi intern di koran The Barton Chronicle. Ini wajar, soalnya gue sempat menulis artikel di koran ini yang mengetengahkan pengalaman gue menonton Superbowl di Parker Pie, dan bahkan foto gue juga ada di artikel. Setidaknya ada empat orang yang ngomong ke gue kalo mereka baca artikel gue dan mereka bilang "Good article."

Jadi, mengenai sifat orang Amerika, kita tidak bisa pukul rata.

Salju (Vermont Part 3)

February 21st, 2007 by suryana74

Summit Hills Apts, Silver Spring, Maryland

Wednesday, Feb. 21, 2007

Meski sudah pernah melihat salju, tapi semua gak ada apa-apanya dengan yang gue lihat Minggu kemarin di Barton, Vermont. Menurut host family gue, Chris Braithwaite, salju yang turun hari Selasa minggu kemarin itu yang paling tebal selama beberapa dekade terakhir ini. "Saya belum pernah lihat salju setebal ini sejak tahun 1978. Waktu itu saya membersihkan atap rumah yang tertimbun salju, dan tebalnya seperti ini," kata Chris.

Chris ini bekas Knight Fellow and pernah membantu terbitnya kembali koran Serambi di Aceh. Gue tinggal dua minggu dari 4 Feb-18 Feb di rumah Chris guna mengikuti program internship di koran milik Chris, The Barton Chronicle.

Salju yang turun hari Selasa itu memang luar biasa. Kalo gak salah ingat, hujan salju dimulai hari Selasa sore dan terus turun hingga Rabu malam. Salju yang turun bukannya salju tipis, tapi salju yang tebal. Sangat indah kalo kita perhatikan, makanya momen hujan salju seperti ini sering digunakan sebagai background film, terutama film yang romantis. Salah satu contohnya misalnya Serendipity, atau The Holiday dan masih banyak lagi. Gue betah banget ngeliatin salju turun dari jendela, dan berharap jangan sampai momen ini berakhir. Romantis. Indah banget (thanks yah Tuhan, hidup ini indah, putih, seputih salju).

Nah, setelah menikmati keindahan salju di malam hari, besok paginya, salju menjadi benda yang paling merepotkan! Semua jalan ditutupi salju yang tebal, sehingga mobil susah bergerak. Mobil gue sempat stuck di salju dan gue gak bisa menariknya keluar. Untungnya ada Chris, sehingga mobil bisa dikeluarin dari kubangan salju.

Mengemudi pun harus hati-hati banget, soalnya jarak pandang masih terbatas. Gue parkir mobil di depan kantor Chronicle, dan terpaksa mobil harus ditinggal semalaman soalnya kalo dibawa pulang, halaman Chris sudah tidak memadai lagi untuk menampung dua mobil.

Kalo hari Rabu kita bekerja di kantor mengepak dan mengirim ribuan koran ke kantor pos, maka hari Kamisnya kita mulai bekerja membersihkan salju. Ini bukan pekerjaan gampang. Seluruh rumah dan halaman, sampai ke atap-atap dipenuhi salju. Ketebalan salju ditempat tertentu bahkan setinggi paha gue.

Kita berdua memulai dengan membersihkan atap rumah. Ini penting, soalnya kalo salju tidak dibersihkan, maka rumah akan terasa dingin banget. Selain itu, kalo tidak cepat dibersihkan, salju akan mengeras menjadi es, dan akan tetap terus menjadi es hingga musim semi bulan Maret nanti.

Chris naik ke atap dan membersihkan atap dengan sekop kayu besar, sementara gue menarik salju dari bawah dengan menggunakan sekop plastik panjang. Gue gak berani naik ke atas, soalnya licin dan gue belum paham benar karakter salju dan atap rumah Chris. Meski di tanah, gue tetep saja keteteran soalnya sepatu yang gue bawa dari Maryland ternyata belum cukup tebal untuk melawan dinginnya Vermont, yang rata-rata cuaca berkisar minus 1 hingga minus 30 Celcius. Gue baru nyadar bahwa seharusnya sepatu boot itu dilengkapi insulator, jadi dirangkap dengan semacam kain dan vinyl hangat. Semua orang di Vermont memakai sepatu lengkap dengan insulator itu.

Karena gue pakai sepatu tanpa insulator, maka kaki gue cepet banget terasa dingin. Baru setengah jam berdiri di luar rumah, langsung kaki terasa dingin dan lama-lama menjadi sakit. Kalo sudah terasa sakit dan kaku, gue langsung cepat-cepat masuk ke dalam rumah, menghangatkan kaki dan ganti kaos kaki. Harus seperti itu, soalnya kalo terus berada di luar, bisa-bisa terkena frost bite. Ini yang paling gue kuatirkan. Jika terkena frost bite parah, bisa-bisa kaki yang membeku harus dipotong.

Setelah membersihkan atap, kita lantas membersihkan halaman yang kita gunakan untuk parkir mobil. Untuk drive way, atau jalan kecil yang menghubungkan rumah Chris dengan jalan raya, kita tidak perlu khawatir karena Chris sudah menyewa orang untuk membersihkan salju.

Selain membersihkan halaman, kita juga membersihkan jalan menuju ke tempat penimbunan kayu, yang kita gunakan untuk pemanas ruangan. Rumah Chris menggunakan pemanas bertenaga gas, dan selain itu juga punya tungku pemanas yang bahan bakarnya potongan-potongan kayu.

Tak terasa kita sudah empat jam membersihkan atap dan halaman, dan cukup lega juga. Tidak hanya kita, tapi semua orang juga sibuk membersihkan salju. Bahkan saking merananya orang membersihkan salju, orang terlihat memasang tanda olok-olok: "Free snow, please take it."

"Dengan tebalnya salju, ini peluang bagus untuk para pembersih salju," kata salah satu teman di Barton. Memang pembersih salju panen besar. Banyak orang yang punya truk pembersih salju lantas diminta bantuan oleh penduduk sekitar untuk membersihkan salju di jalan dekat rumah mereka, dan tentu saja ini bisnis yang menguntungkan. Untuk jalanan drive way milik pribadi, biasanya orang menggaji tetangga atau orang sekitar kampung, tapi untuk jalanan yang agak besaar di sekitar kampung, biasanya dibersihkan oleh orang yang dipekerjakan pemerintah lokal (pemerintah kota). Untuk jalan-jalan utama dan jalan interstate, biasanya yang membersihkan orang-orang pekerja pemerintah negara bagian Vermont. Menarik sekali memperhatikan betapa banyak mobil pembersih salju berseliweran di jalan-jalan di Barton.

Di hari Sabtu dan Minggu, mulai terlihat banyak orang yang mengendarai snow mobile atau mobil salju sebagai sarana rekreasi. Pemandangan ini tidak terlihat dalam beberapa minggu terakhir karena salju tidak begitu tebal di Vermont. Baru setelah hujan salju besar Selasa lalu, maka turisme musim dingin di Vermont mulai bergeliat lagi.

Ini salah satu berkah yang lain bagi ekonomi di Vermont.

Nekat (Vermont Part 2)

February 21st, 2007 by suryana74

Summit Hills Apts, Silver Spring, Maryland

Feb. 21, 2007

Mengendarai mobil merupakan momen yang menarik ketika gue tinggal di Barton, Vermont dua Minggu lalu. Memang jalanan licin karena salju, tapi lalu lintas cukup sepi sehingga gue bisa menikmati pemandangan alam dan arsitektur di daerah pedesaan Amerika ini.

Selain itu, gue bisa nyetir sambil dengerin musik. Rasanya beda dengan dengerin musik di Indonesia. Waktu dulu di Indonesia, ketika nyetir dan tiba-tiba muncul lagu Barat dari radio, kita selalu membayangkan Amerika kayak apa. Sekarang, tidak perlu lagi membayangkan jalanan Amerika seperti apa. Sekarang kita merasakan pengalaman real, nyata. Itu bedanya.

Lebih asyik lagi karena mobil yang gue tumpangi betul-betul mobil baru keluaran tahun 2007. Ketika gue lihat di odometer, angka yang terlihat disitu baru sekitar 4,000, yang berarti bahwa jarak yang ditempuh mobil ini baru berkisar 4,000 miles atau sekitar 7,000 kilometer.

Mobil Ford Focus ini lumayan canggih, dan sepertinya didesain khusus untuk daerah dingin. Misalnya, mobil ini punya alat untuk mencairkan salju di jendela belakang dan depan, dan yang lebih asyik lagi, punya alat yang bisa menghangatkan kursi yang kita duduki. Tinggal pencet tombol di sebelah kanan bawah kursi, dan kursi menjadi hangat dalam waktu 2 atau 3 menit.

Seperti  gue bilang, gue menyewa mobil ini $668 selama dua minggu. Mileage yang gue dapat 1,000 miles, jadi kalo selama dua minggu itu lewat 1,000 miles, kelebihannya harus gue bayar sendiri. Kalo lebih gue harus bayar 20 cents per mile.

Karena gue sudah bayar mahal, makanya gue juga nggak mau rugi. Weekend pertama gue, Hari Sabtu tanggal 10 Februari, gue langsung geber mobil ke Concord, ibukota negara bagian New Hampshire, yang merupakan tetangga Vermont. Ini terbilang cukup nekat, soalnya jalanan cukup licin karena salju, dan gue juga belum begitu hapal daerah New England. Selain itu, jaraknya cukup jauh juga, yaitu sekitar 200 miles.

Meski jaraknya jauh, tapi mengemudi di Amerika ini tergolong gampang dan aman. Gampang, karena tinggal lihat peta, dan perhatikan tanda jalan, terutama tanda jalan antar negara bagian yang disebut interstate highway. Biasanya di peta dan di jalan-jalan banyak dijumpai tanda ini, sehingga memudahkan kita mengenali interstate highway mana yang akan kita lewati. Tanda interstate highway ini berwarna biru, dan disana terpampang angka nomor interstate dan arah, seperti misalnya 89 North, atau 89 South. Kebetulan gue ada di daerah atas, atau utara, sehingga tinggal lihat interstate mana yang akan gue lewati, dan kemudian lihat arah, yang dalam kasus gue ini berarti South, karena memang letak New Hampshire di daerah bawah peta, atau daerah selatan. Yang sedikit rumit, setelah masuk kota, karena jalanan mengecil dan cabang-cabangnya banyak. Celakanya, di Amerika jarang dijumpai orang di pinggir jalan, tidak seperti di Indonesia. Makanya, kalo bingung, gue cuman bisa tanya orang di supermarket, restoran atau di pompa bensin. Asyiknya di New England, hampir semua orang ramah dan bersedia membantu, tidak seperti di Maryland atau Washington yang sepertinya banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Selain gampang, mengendarai mobil di Amerika itu aman. Kecuali jalan pedesaan, hampir semua jalan di Amerika dilengkapi dengan pembatas jalan, yang membagi jalan menjadi dua bagian. Dengan adanya pembatas jalan ini, lalu lintas menjadi lebih aman karena mobil yang berlawanan arah tidak bisa berpindah jalur. Sebagai gambaran, biasanya, setiap satu jalan di Amerika terbagi menjadi dua bagian, yang satu misalnya ke arah utara dan yang lainnya ke arah selatan, dan diantara dua arah itu, ada pembatas jalan. Jalan arah utara biasanya terdiri dari dua atau tiga jalur, dan demikian juga dengan jalan di seberangnya, terdiri dari dua tau tiga jalur juga.

Ini berbeda dengan di Indonesia, dimana masih banyak jalan yang belum memiliki pembatas jalan seperti di Amerika. Dengan belum adanya pembatas jalan, banyak terjadi kecelakaan. Banyak kejadian, bis malam menyalip kendaraan didepannya, dan terjadi kecelakaan karena sopir bis tidak menyadari dari arah berlawanan muncul mobil lain. Jika, di tengah jalan diberi pembatas jalan, tabrakan mobil semacam diatas tak akan pernah terjadi. Di Indonesia, pembatas jalan diatas masih terbatas berada di kota besar seperti terlihat di Jalan Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto dan sebagainya.

Rata-rata orang Amerika cukup tertib ketika mengendarai mobil. Kalo kita tidak berjalan cepat, kita bisa memakai jalur paling kanan. Tapi kalo kita ingin mempercepat laju kendaraan dan menyalip kendaraan di depan kita, kita pakai jalur kiri.

Hal yang perlu kita waspadai ialah jalanan licin karena salju, juga semacam pasir yang kadang-kadang muncul di tengah jalan. Gue gak tahu itu pasir darimana. Sekali dua kali, gue melintasi pasir dan jalanan yang saljunya sudah mengeras menjadi es, dan tentu saja gue mobil gue tergelincir. Untung tergelincir gak terlalu jauh, paling sekitar 20 atau 30 centimeter, jadi tidak terlalu berbahaya. Selain licin, kita juga perlu hati-hati ketika turun hujan salju. Ketika salju turun, pandangan menjadi terbatas dan kita mesti berhati-hati. Untungnya, hujan salju ketika gue pulang dari New Hampshire tidak merata, sehingga tidak begitu menghambat perjalanan.

Yang terakhir, jangan bingung terutama ketika sudah masuk di kota. Kalo di interstate highway kita masih bisa menepi dan lihat peta, di tengah kota sudah tidak mungkin lagi. Kalo kita bengong di tengah jalan, maka mobil di belakang pasti membunyikan klakson dan bikin kita tambah panik. Jadi sebaiknya tahu persis arah yang kita tuju sebelum kita masuk ke dalam kota.

Mungkin teman-teman bertanya, mengapa gue pergi ke New Hampshire? Alasan yang pertama, gue sudah janji dengan teman Indonesia di Brattleboro, daerah selatan Vermont, untuk mengunjungi dia kalo gue ada di Vermont. Gue telpon dia hari Sabtu itu, tapi sialnya ternyata dia sedang ada di New York untuk ikut internship. Memang salah gue sih, selalu spontan dan dadakan. Karena rencana A gagal, maka gue cari tempat lain yang bisa gue kunjungi.

Akhirnya, gue pilih New Hampshire. New Hampshire ini menarik karena tempat ini merupakan tempat pertama presidential primary elections di Amerika Serikat. Sebagai background, biasanya Partai Demokrat atau Partai Republik mengadakan pemilihan umum untuk memilih calonnya untuk menjadi pasangan presiden dan wakil presiden Amerika Serikat, dan pemilihan inilah yang disebut Primary Elections. New Hampshire ini kocak karena rakyat negara bagian ini membuat semacam UU bahwa apapun yang terjadi, New Hampshire harus selalu yang pertama mengadakan Primary Elections, dibandingkan dengan negara bagian lain di Amerika Serikat. Dan selama ini memang selalu New Hampshire yang pertama mengadakan primary elections dan karena yang pertama, makan dia selalu mengundang perhatian dari seluruh rakyat Amerika dan media. Karena selalu yang pertama, maka hasil primary elections di New Hampshire selalu menjadi semacam patokan bagi hasil pemilu selanjutnya di negara bagian lain.

Ini yang menarik dari New Hampshire dan itu yang membuat gue pingin tahu negara bagian ini seperti apa, terutama ibukotanya, Concord. Setelah nyampe di Concord, ternyata kota Concord ini cukup kecil, tapi indah, karena memang kota ini cukup tua. Tata kota asyik karena masih memakai tata kota gaya Eropa lama.

Sayang gue tidak bisa sempat lama di Concord karena hari sudah gelap dan gue harus balik ke Vermont lagi.

Tapi, petualangan belum berakhir. Hari berikutnya, atau hari Minggu, gue jalan lagi ke daerah perbatasan Amerika dan Kanada. Cukup dekat dengan Barton, sekitar 19 miles kalo tidak salah. Gue naik mobil ke arah utara dan akhirnya nyampe juga di perbatasan Amerika dan Kanada. Begitu nyampe di daerah perbatasan, langsung gue lihat banyak pengumuman yang menggunakan bahasa Inggris dan Prancis. Maklum, karena banyak orang Kanada yang tinggal di sekitar perbatasan itu berasal dari Prancis dan mereka menyebut diri orang Quebec. Pintu perbatasan cukup besar, dan bentuknya mirip pintu tol yang seperti kita lihat di Jagorawi atau di pintu tol lain di Jakarta. Untuk urusan pabean atau custom, orang harus meluncur ke kantor paeban Amerika yang letaknya cuman beberapa blok dari pintu  besar perbatasan tadi. Suasana biasa-biasa dan damai, tidak banyak security berkeliaran di jalan, tidak seperti perbatasan Amerika dan Meksiko yang cukup tegang karena masalah imigran gelap.

Setelah dari perbatasan, gue langsung meluncur ke kota kecil apik yang bernama Saint Johnsbury. Kota ini betul-betul indah, gaya kota Eropa lama. Bangunan museum, bangunan gereja dan anatheum masih utuh meski dibangun di tahun awal 1800-an. Indah banget. Bangunan-bangunan itu konon katanya dibangun oleh keluarga Fairbanks, yang menemukan peralatan timbangan. Keluarga ini menjadi kaya raya karena mereka menemukan timbangan, membuat paten, memproduksinya dan mengeskpor ke seluruh dunia. Karena mereka punya banyak uang, maka mereka membangun bangunan yang bagus-bagus di tempat mereka tinggal, yaitu Saint Johnsbury.

Biasanya, kalo gue mampir ke kota baru, gue duduk di cafe dan minum kopi atau teh dan nongkrong menikmati kota. Sialnya sekarang musim dingin, jadi paling berkeliaran di kota yang sekarang sepi ini, dan lantas cabut balik ke Barton. Begitulah!

Internship (Vermont Part 1)

February 12th, 2007 by suryana74

The Barton Chronicle, Vermont
Monday, Feb. 12, 2007

Pernahkah kamu merasakan semacam perasaan excited, tapi di saat yang sama juga ada semacam perasaan galau, khawatir? Jika kamu pernah dihinggapi perasaan semacam itu, persis itulah yang gue alami beberapa saat sebelum gue pergi ke kota kecil di negara bagian Vermont, yang bernama Barton. Di Barton, gue menjalani program internship atau magang di koran mingguan kecil yang namanya The Barton Chronicle.
Sebelum ke Barton, gue diberitahu teman-teman di Maryland dan juga host family gue, Chris Braithwaite, bahwa daerah Barton itu dingin banget, cuaca bisa drop sampai -20 Celsius. Disana tidak ada transportasi umum, jadi orang harus bisa mengendarai mobil. Mengendarai mobilpun juga harus hati-hati, soalnya jalanan sering licin sehabis hujan salju.
Setelah sampai di Barton, ternyata apa yang disampaikan oleh teman-teman gue dan Chris itu betul. Cuaca di Barton sangat dingin. Gue sudah disini selama seminggu dan cuaca yang paling anget sekitar 24 Fahrenheit atau -1 Celsius, sementara yang paling dingin pernah mencapai -4 Fahrenheit atau kalo di convert ke Celsius, mungkin diatas -10 Celsius (tambahan: ternyata hari Selasa kemarin tanggal 13 February, cuaca jam 7 pagi drop sampai -20 Fahrenheit, yang kalo di convert ke Celsius berarti -30 Celsius). Jadi bayangin, betapa dinginnya!
Gue selalu menggigil sehabis mandi. Karena sangat dingin, maka gue mandi kadang sehari sekali atau sekali dalam dua hari. Begitu keluar rumah, jika tidak memakai sarung tangan, tangan akan terasa sakit dalam waktu dua atau tiga menit. Gue dan Chris harus terus memasukkan potongan kayu ke dalam tungku api pemanas untuk menjaga supaya temperature di dalam rumah tetap hangat. Gue sudah beli boot dari Maryland, tapi ternyata boot yang gue beli tidak cukup untuk menahan dinginnya cuaca. Pendek kata, dingin banget dah di Barton ini!
Selain dingin, Barton dan daerah lain di negara bagian Vermont ini juga hilang keindahannya karena selama musim dingin ini, semua tempat tertutup salju. Tidak seperti di Maryland dimana salju datang cuman sehari dan lenyap keesokan harinya karena mencair, di Vermont, salju terus nangkring di tanah sepanjang musim dingin. Salju susah cair karena cuaca disini memang sangat dingin.
Tapi, seperti gue bilang ke Chris dan teman-teman, gue nggak nyesel datang ke Barton di musim dingin ini. Di musim dingin, gue bisa ketemu banyak salju, yang mungkin gak akan gue temuin di tempat lain. Gue juga bisa belajar ski, walau cepet bosan soalnya jatuh melulu.
Selain itu gue juga ada kesempatan untuk nyetir mobil. Gue menyewa mobil di persewaan mobil Ford di kota Newport di dekat Barton. Cukup mahal juga. Seminggu nyewa mobil, gue kena getok US$240, jadi gue harus keluar duit US$480 selama dua minggu dan plus asuransi seharga US$133 per minggu. Total sewa dua minggu $668. Moga-moga semua ditanggung oleh Fulbright. For you information, gue nyewa mobil Ford Focus, dan mobil ini lumayan enak juga dikendarai. Cukup canggih juga, dan sepertinya memang diperuntukkan untuk daerah dingin. Contoh yang paling gampang soal penghangat kursi. Tinggal kita pencet tombol di sebelah kanan kursi sopir dan dalam waktu satu menit, kursi yang kita duduki akan terasa hangat. Di Indonesia, yang cuacanya terus hangat dari tahun  ke tahun, gak ada fasilitas semacam ini.
Mengendarai mobil di Vermont di musim dingin harus hati-hati. Chris tak henti-hentinya bilang bahwa gue harus hati-hati nyetir di daerah Barton. Gue kadang-kadang tergelincir, memang tergelincir paling 10 atau 30 centimeter. Agak ngeri juga. Yang paling sial ketika gue hendak berangkat ke Barton Chronicle. Tiba-tiba ada mobil dari depan melintas, dan secara reflek gue minggir. Begitu minggir, mobil langsung terpeleset ke kanan karena gue melintasi pinggir jalan yang tertutup salju dan debu. Rupanya pinggir jalan ini belum dibersihkan oleh mobil pembersih salju sehingga licin. Mobil gue tergelincir ke kanan dan bagian kanan depan menghunjam tumpukan salj dan bahkan roda mobil terangkat naik sedikit. Secara reflek, gue langsung banting setir ke kiri ke tengah jalan dan setelah gue cek, untungnya gak ada lecet di mobil.
Moga-moga besok-besok gak ada lagi insiden semacam itu. Chris justru terkena insiden yang lebih parah. Beberapa hari yang lalu, mobil yang dia tumpangi tertabrak mobil yang ditumpangi ibu-ibu tua, yang menurut Chris berumur sekitar 70 tahun. Chris sendiri berumur 62 tahun, tapi masih terlihat seperti orang berumur 50-an.
Dalam insiden itu, mobil Chris rusak di bagian kanan depan, dan untungnya dicover asuransi sehingga moga-moga dia gak keluar uang sepeserpun.
Begitulah seni bermobil di daerah Vermont.
Omong-omong tentang Chris Braithwaite, dia ini orang Amerika yang terpilih sebagai Knight Fellow oleh the International Center for Journalist, sehingga dia dapat kesempatan untk pergi ke Aceh tahun lalu, dan membantu terbitnya kembali koran Serambi. Dia ialah penerbit dan sekaligus pemilik koran The Barton Chronicle, dan dia welcome ketika koordinator program gue Lucinda Fleeson meminta dia untuk menampung gue selama gue menjadi intern di The Barton Chronicle.
Chris ialah duda beranak tiga, dan hidup bersama anjingnya yang bernama Annie di rumahnya di dekat sebuah danau di daerah West Glover. Danau ini katanya indah selama musim panas, tapi sayang sekarang ini semua areal danau tertutup salju. Selama weekend, biasanya Chris pergi mengunjungi pacarnya yang bernama Lucy, yang berumuran sepantaran dengan Chris dan tinggal di daerh Masschusetts, yang sekitar 4 jam dari Barton. Lucy ini tinggal di Massachusett dengan anjingnya yang bernama Bean. Jika Chris tidak pergi ke Massachusett, Lucylah yang pergi mengunjungi Chris di Barton. Mereka sudah melakukan kunjung mengunjungi ini selama 15 tahun.
Chris orang yang baik dan gue merasa betah tinggal bersama beliau. Gue juga bertemu dengan Lucy weekend kemarin, dan orangnya juga fun dan cool.
Memang rata-rata orang di daerah Vermont ini baik, ramah dan hangat, dan berbeda denga orang di Maryland atau Washington. Memang mungkin seperti itulah karakter orang di daerah pedesaan: hangat, helpful dan baik hati!

Tragedi SIM part 2

January 26th, 2007 by suryana74

Summit Hills, Silver Spring, Maryland

Friday, Jan. 26, 2007

Tes SIM gagal lagi! Kali ini gue gagal di parkir paralel. This is the low point in my life.

Udah terlanjur bayar $500 untuk sewa mobil di Vermont, sampai sekarang belum dapat SIM. Paper Diplomasi dan Transformasi Konflik belum juga jadi. Stress juga, karena target gue Senin besok sudah harus terkumpul. 

Setelah dipikir-pikir, ini pembelajaran yang bagus buat gue. Ini semacam pengalaman, bagaimana kita tetap menjaga ketenangan di saat krisis.

Di saat krisis, kita tetap harus berpikir strategik dan menjauhkan emosi. Berpikir dan bertindak secara analitis dan terstruktur!

Tentara

January 25th, 2007 by suryana74

Summit Hills Apts, Silver Spring, Maryland

Friday, Jan. 26, 2007

Huh, can not sleep! It’s already 1 a.m. Anyway, Kamis siang kemarin gue menghadiri pidato makan siang yang dipaparkan oleh Jendral Sutanto, kepala kepolisian RI yang kebetulan mampir ke Washington D.C. Sangat menarik. Bapak satu ini sangat sistematis kalo ngomong, cerdas dan sangat percaya diri. Gue bangga bahwa beliau mampu mempesona para hadirin yang rata-rata businessmen dan tokoh pemerintahan di Amerika Serikat. Memang cocok kalo beliau menjadi kepala kepolisian RI. Tidak malu-maluin!

Tapi ada hal lain yang menarik, di samping mendengarkan ceramah Jendral Sutanto, yaitu pertemuan gue dengan lurah Indonesia di Amerika, Duta Besar Soejadnan Parnohadiningrat. Gue ketemu dengan Soejadnan ketika gue melngkah masuk ke Powell Room, di Cosmos Club, salah satu club elit di Washington. Begitu gue masuk, di tengah pintu masuk ternyata berdiri satu sosok yang gue kenal, siapa lagi kalo bukan Oom Jadnan.

Gue sebenarnya gak begitu kenal-kenal amat dengan beliau. Di acara-acara kedubes, gue paling ngelihat beliau dari kejauhan doank. Cuman gue agak respek dengan Oom satu ini, soalnya beliau ini sederhana dan merakyat.

Makanya begitu ngeliat beliau, langsung gue sodorkan tangan, "Halo Pak Jadnan." Seperti biasa dengan muka ramah Oom Jadnan balik menyapa "Halo Mas. Apa kabar?" "Kabar baik, pak." Nah, setelah itu rupanya Oom Jadnan langsung error, mungkin tadi pagi habis sarapan jengkol, "Anda dari TNI?" begitu sapa beliau dengan muka nan culun ceria. O wala dalah Oom Jadnan, Oom Jadnan!

Kalo dipikir-pikir, memang dari pengalaman gue dulu-dulu, gue ini selalu dikira tentara, atau setidak-tidaknya polisi. Mungkin karena potongan gue yang tinggi, tegap, kulit coklat gelap dan selalu berambut cepak.

Ketika gue pertama kerja di The Jakarta Post, editor gue nan galak, Mak Santi selalu memanggil gue dengan Prada Budi Leksono (alias BL), prajurit culun yang disekap mahasiswa. Memang antik prajurit satu ini. Umumnya tentara yang menculik dan menyekap mahasiswa, tapi justru dalam kasus si BL ini, si doi yang tentaralah yang justru disekap mahasiswa!

Selain dipanggil BL, kasus lain terjadi ketika gue liputan tempat judi di bilangan pasar Kebayoran Lama. Waktu itu gue reporter baru di JP, sekitar tahun 1999, dan ditugasi editor gue Bang Kamba Basri alias Bsr untuk liputan judi. Memakai jaket coklat, gue parkir motor RX King gue di pinggir rel kereta di tempat judi digelar. Gue lantas melangkah menuju tempat judi di pinggir rel, dimana orang berkerumun di terangi lampu petromax. Gue dengan gaya tenang berdiri persis berhadapan dengan bandar, dibelakang orang yang pada berdiri, jongkok dan duduk mengelilingi bandar. Di belakang bandar, gue lihat beberapa orang berambut cepak datang dan pergi silih berganti, bicara-bicara sebentar dengan orang yang sepertinya asisten bandar.

Setelah beberapa putaran, rupanya si bandar mulai ngeliat gue. Secara reflek, gue gantian ngeliat muka si bandar. Si bandar mulai tegang, "Kok orang tinggi berambut cepak ini nggak pergi-pergi sejak tadi yak?" begitu mungkin pikirnya.

Si bandar mulai ngomong dengan asistennya, dan membisikkan sesuatu sambil mukanya tetep ngeliat ke arah gue. Dia ngomong ke si asisten, sementara tangannya sibuk memutar dadu. Rupanya si asisten ini gak paham-paham juga, dan si bandar terlihat mulai gak sabar. Dia ngomong agak keras ke si asisten, tangannya nunjuk ke gue. Si asisten lantas melangkah ke arah gue.

Sementara si asisten berjalan ke arah gue mengelilingi kerumunan orang-orang ini, tak terduga si bandar ngomong ke arah gue, dan tentu saja semua orang di kerumunan itu pada ngliatin ke gue. Si bandar kuncung ini sopan banget ngomong ke gue. "Mohon maaf ya pak. Anak buah saya ini masih baru," kata si bandar, sambil terus sibuk memutar dan menutup dadu dengan mangkok. Gue langsung sadar, rupanya gue ini dikira POLISI oleh si bandar judi! Memang wajar, soalnya seperti gue bilang tadi, gue ini tinggi, berambut cepak, dan apalagi pakai jaket coklat!

Si asisten akhirnya ketemu gue dan lantas mengulurkan duit Rp 5,000 perak! Tentu saja dengan geli gue tolak. "Mas, saya ini pegawai swasta. Bukan polisi. Balikin aja diuitnya ke si bandar," kata gue, sambil ngeloyor pergi.

Tentu saja gue ngaku pegawai swasta dan emang nggak bohong kan, soalnya gue kerja di perusahaan swasta yang namanya The Jakarta Post. Gue nggak ngaku wartawan. Soalnya kalo ngaku wartawan, bisa-bisa gue digebukin penjudi-penjudi pasar Kebayoran. Mereka paham, kalo berita sampai muncul di koran, bisa-bisa tempat mereka cari makan itu dibubarkan aparat!