Jamestown
June 13th, 2007 by suryana74Silver Spring, Maryland
Thursday, June 13, 2007
Kira-kira sebulan lalu, menjelang selesai program Hubert Humphrey Fellowship, temen gue yang baik walau cerewet, Bu Lily, came up with several great ideas, termasuk pergi lewat jalan darat ke berbagai tempat di Pantai Timur Amerika. Karena beliau belum juga yakin tempat mana yang hendak dituju, maka gue usul agar kita pergi ke Jamestown, di daerah Virginia, sekitar 2 atau 3 jam dari tempat kita tinggal di Maryland. Gue yakinin bahwa tempat ini asyik, soalnya selain mengunjungi salah satu tempat paling bersejarah di Amerika, kita juga bisa nonton perayaan 400 tahun mendaratnya orang-orang Inggris pertama di Amerika. Mereka inilah cikal bakal bangsa kulit putih yang menghuni negara Amerika Serikat saat ini.
Gue yang menyewa mobil, dan akhirnya kita dapet mobil Jeep Cherokee dari Thrifty Car Rental. Mobil ini lumayan asyik, masih baru dan terlihat kokoh, khas mobil Amerika. Celakanya, gue kayaknya belum pernah nyetir jeep. Biasanya gue nyetir sedan atau kijang. Makanya, begitu pegang kemudi, gue langsung blingsatan. Gue puter-puter kuncinya, kok mesin gak nyala-nyala yak? Tetep aja si jeep hitam ini diem membisu. Gue kutak-kutik, dan ketika pencet salah satu tombol, yang bergerak malah si weeper penyapu air hujan! Waah, gue tengsin habis, soalnya di sebelah gue duduk cewek Batak, si Deta. Kita berdua emang yang ambil mobil dan rencananya, nanti kita akan jemput Bu Lily, suami beliau yang bernama Rizal dan teman lain yang bernama Ovie. "Waah, gawat neh. Bah, apa pula pikir si Batak ini nanti?" begitu kata gue dalam hati.
Meski panik, gue pura-pura tetep tenang dan cool. Pokoknya gerak-gerik tetep memperlihatkan ketenangan dan profesionalisme. Bah! Gue pura-pura mempelajari seluk-beluk mobil, dan sontoloyo, ternyata mobil ini sudah nyala! Cuman gak kedengaran bunyinya karena saking alusnya mesin mobil!
Satu masalah selesai, sekarang muncul masalah lain. Parkir mobil yang terletak di belakang kantor Thrifty ini sempit, jadi mobil jeep ini susah bergerak. Mana mobil ini besar pula badannya. Gue mundurin pelan-pelan, wah, gak cukup neh. Gue majuin lagi, mundurin dan akhirnya bisa lepas juga dari parkir sempit ini. Begitu gue hendak tancap gas ke jalan raya, tiba-tiba si Deta nyeletuk: "Mas, kok mobil ini gak punya kaca belakang yah?"
Tentu saja gue kagak percaya: "Ah, masak sih?" Gue perhatikan emang daerah belakang mobil bolong. Gue pikir ini karena kaca belakang sangat jernih, sehingga pemandangan di belakang mobil terlihat jelas banget, seperti aslinya.
Deta lantas nyeletuk lagi: "Oh, gue tahu sekarang, pintu belakang belum ditutup!" Si doi lantas bergegas buka pintu dan pergi ke bagian belakang mobil untuk tutup pintu belakang mobil. Rupanya, pintu belakang terbuka ke atas. Jadi, tadi itu kita puter-puter parkiran dengan pintu mobil bagian belakang terbuka ke atas! Untung tidak menghantam tembok atau mobil lain.
Setelah itu kita meluncur menjemput tiga teman yang lain diatas, yang tengah setia menunggu di McDonald Restaurant di Silver Spring. Si Deta tetap duduk di depan, dan gue harus akui, anak 23 tahun ini cukup tajam dalam membaca peta. Tak sia-sialah dikau diterima di Georgetown University, nak!
Sepanjang perjalanan cukup lancar, dan kita berhenti sekali dua kali untuk beli makanan atau isi bensin. Uda Rizal seperti biasa sibuk ambil gambar. "Aku pikir, aku ini maniak foto. Tapi ternyata ada orang lain yang lebih maniak dari aku, Mas," cetus si Deta ke gue dengan logat Bataknya.
Perjalanan cukup lancar, walau sempat macet ketika hendak sampai di Jamestown. Rupanya ada macet juga di Amerika. Macet ini karena ada dua jalan yang menyempit. Untung tidak lama, sehingga kita terus melaju ke Jamestown tanpa hambatan.
Kita langsung menuju ke suatu benteng kecil dimana orang-orang Inggris pertama mendarat di Jamestown. Kita tidak boleh parkir di sekitar areal benteng, dan harus parkir agak jauh di tourism center, dan dari sana, kita naik bis ke tempat bersejarah itu.
Kita lihat, di daerah sekitar tempat bersejarah itu, sudah banyak tenda dan tempat pertunjukan digelar. Cukup ramai, mengingat hari ini, 11 Mei 2007, merupakan hari pertama diselenggarakannya festival memperingati 400 tahun datangnya orang-orang Inggris di Amerika. First settlement of Englishmen in the U.S.
Kita berusaha masuk ke benteng, tapi sialnya tempat itu cuman buka sampai jam 5 sore. Kita nyampe udah jam 6. "Tolong Bu, kita jauh-jauh datang dari Maryland," kata gue ke si ibu-ibu yang jaga benteng. Tetep aja si doi kekeuh, sambil mohon maaf benteng udah tutup. Gue jadi merasa bersalah ke teman-teman ini, sudah jauh-jauh, ternyata benteng tutup. Untunglah, akhirnya mereka terlihat enjoy ngeliatin festival. Mereka foto bareng dengan orang bule berpakaian mirip prajurit Inggris masa lalu, nonton konser dan makan-makanan khas Amerika.
Malamnya kita singgah ke Richmond, salah satu kota besar di Virginia, dan nyampe disana sudah sekitar jam 11 malem. Apa boleh buat, karena udah malem, lagi-lagi kita makan di McDonald, tempat makan favorit si Uda Rizal.
Perjalanan pulang lancar-lancar aja, dan mobil ini lumayan asyik juga, mantap dikendarai, meski borosnya minta ampun. "Asyik, kayak naik pesawat," begitu celoteh si Deta.
Kita sampai di Washington jam 12.30 dan mendrop si Deta di apartmennya yang terletak di Crystal City, Washington DC. Nah, tanpa si Deta, kita berempat ini seolah kambing kehilangan sang penggembala.
Begitu keluar daerah apartmen si Deta, gue lihat ada 15 dan 18 Streets, tapi mana yah 16 Street? Kalo gue bisa dapet 16 Street, jalan ini langsung lurus ke Silver Spring. Tapi, muter-muter bagaimanapun, tidak ketemu juga 16 Street. Kita ambil jalan lain, tetep hasilnya sama. Bukannya mendekat ke Silver Spring, tapi malah menjauh. Karena sudah capek, maka suasana jadi tegang. Setelah muter-muter tanpa arah, tak satupun diantara kita yang berani ambil inisiatif hendak ke mana kita melangkah. Takut kalo jadi kambing hitam.
Akhirnya kita berhenti ke CVS Pharmacy, dan tanya si penjaga toko. Setelah dia jelaskan panjang lebar, kita berkesimpulan, orang ini baik hati, tapi gak banyak membantu. Bu Lily akhirnya ambil inisiatif, dan mengusulkan kita pergi ke downtown Washington, dan setelah itu akan lebih jelas kemana kita bergerak.
Gue ambil keputusan, kita pergi ke downtown Washington dan cari 16 Street. Dan ternyata, keputusan ini tepat. Begitu kita ketemu 16 Street, tinggal lurus terus, sampai dah ke Forest Glen dan Silver Spring, dimana kami tinggal. Setelah lihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Rupanya sekitar tiga jam kita puter-puter Washington DC. Ini mah sama dengan waktu tempuh Washington - Jamestown!